Tiap Kegagalan Terselip Benih Keberhasilan

September 16, 2010 at 10:16 am Leave a comment

Dalam sebuah perjalanan hidup, setiap orang sudah tentu tidak dapat terlepas dari suatu kegagalan dan problema hidup yang sewaktu-waktu dapat menimpa yang mau tidak mau harus dihadapi.

Munculnya problema dan kegagalan ini umumnya dirasakan sangat berdampak negatif bagi sebagian orang, namun tanpa disadari bahwa dalam setiap problema maupun setiap kegagalan tsb juga mengandung benih-benih positif yang akan membawakan sebuah keberhasilan bagi mereka-mereka yang mengalaminya. Dampak positif ini akan dirasakan oleh mereka-mereka yang mampu berpikir positif, menerima berbagai rintangan maupun kegagalan dengan lapang dada dan mampu menjadikan semua itu sebagai pemicu semangat serta keyakinan untuk mengintrospeksi diri, merubah kondisi menjadi lebih baik dan lebih berarti dari hari-hari sebelumnya. Sebagai contoh nyata adalah kehidupan saya pribadi. Saya bukan berpromosi kepada anda, namun memang inilah perjalanan hidup yang saya alami sampai akhirnya saya kembali ke kampung halaman di Pulau Dewata ini yang juga disebabkan hanya karena sebuah kegagalan semata. Saya tidak akan pernah malu mengatakan kegagalan dan problema ini kepada anda karena saya yakin anda pun pernah mengalaminya.

Kegagalan dan problema hidup bukanlah hal yang asing bagi saya. Sejauh ingatan saya akan masa lalu, sudah begitu banyak kegagalan yang pernah saya alami. Kegagalan demi kegagalan dan problema yang menghiasi perjalanan hidup saya masih terasa kuat melekat dalam ingatan ini. Beberapa kali gagal dalam studi, cinta yang bertepuk sebelah tangan, kegagalan dalam persahabatan dan masih banyak lagi problema hidup baik besar maupun kecil yang hampir semua berujung pada kekecewaan dan sebuah kegagalan.

Masih jelas dalam ingatan saya, berbagai problema dan kegagalan yang saya hadapi dimasa lalu itu pernah beberapa kali membuat saya putus asa, kurang percaya diri dan mulai menyalahkan diri sendiri. Hari-hari berlalu penuh dengan ketidakberanian dan keraguan yang pada akhirnya juga membawakan kekecewaan semata. Hingga tiba di suatu masa di Tahun 1994, saya pun betul-betul terjatuh dan tersungkur kedalam jurang kehidupan yang begitu dalam, tanpa pikiran, tanpa perasaan dan tanpa kesadaran akibat problema hidup yang tidak sanggup saya hadapi waktu itu. Bagi saya, ini adalah ganjaran, sebuah tendangan kasih sayang Sang Pencipta kepada mahluk ciptaannya. Saya sangat bersyukur karena Tuhan masih memberi waktu, memberikan kesempatan untuk merasakan sejuknya sentuhan sang bayu, panasnya pancaran sinar mentari dan indahnya alam semesta ciptaan-Nya sampai detik ini.

Setelah terbebas dari kehampaan tanpa kesadaran itu, saya mulai berpikir dan sesekali merenungi apa yang salah dengan diri ini hingga kekecewaan seakan melekat kuat dan kegagalan tidak sudi menjauh. Saya perhatikan beberapa orang yang ada disekeliling saya. Mereka begitu bebasnya bergerak tanpa beban, begitu ceria dan penuh semangat seakan dunia ini hanya milik mereka. Kemanapun saya pergi saya sempatkan diri untuk memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang ada disekeliling saya. Lama saya perhatikan dan timbul sebuah pertanyaan “Apa yang ada di benak mereka, apa yang mereka pikirkan saat itu..?”.

Dengan peristiwa di Tahun 1994 itu, perjalanan hidup saya seakan terhenti dan semua yang pernah ada bagaikan menghilang begitu saja. Studi yang hancur berantakan, ingatan akan peristiwa dimasa lalu, ingatan akan teman-teman yang pernah hadir dalam hidup saya dan semua hal-hal besar maupun kecil lainnya seakan terhapus dan sulit untuk diingat kembali. Setelah itu hampir semuanya mesti saya awali dari nol, dalam berbicara pun saya mesti terbata-bata karena lidah ini terasa kaku dan sulit mengeluarkan kata-kata. Saat itu saya hanya bisa berharap dan berdoa semoga saya bisa melanjutkan perjalanan hidup ini kembali seperti sediakala. Anda yang mungkin mengenal diri saya pasti masih teringat akan peristiwa yang saya alami saat itu. (Malang.1994).

Peristiwa itu membuat saya harus belajar banyak, belajar untuk menghadapi hidup yang penuh cobaan dan rintangan. Dengan peristiwa itupun saya banyak mendapatkan wejangan-wejangan dari para kerabat yang masih peduli dengan kondisi kesehatan dan pikiran saya saat itu. Salah satu kerabat dekat saya pernah berkata “Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga, namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apapun. Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan sengsara, karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.” Kata-kata ini menumbuhkan semangat saya untuk berusaha membenahi diri.

Suatu hari saya mampir di sebuah warung kecil penjual koran dan majalah untuk membeli surat kabar terbitan terbaru saat itu. Hal ini sering saya lakukan untuk mengisi kekosongan hidup yang saya rasakan. Melihat-melihat sebuah tabloid, mata saya tertuju pada untaian kalimat yang sampai saat ini masih saya ingat dengan jelas. Kalimat itu menyebutkan “Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka”. Setelah membaca kalimat tsb saya baru menyadari bahwa inilah salah satu kesalahan saya, menyesali semua kegagalan dan problema hidup yang saya alami terlalu lama sehingga tidak ada lagi pikiran positif, semangat dan keberanian untuk menghadapi problema dan kegagalan yang mungkin terjadi selanjutnya.

Dengan hidup baru ini saya mulai membenahi diri, mulai berpikir bahwa setiap kegagalan itu bukanlah hal yang perlu di takuti. Inti dari semuanya adalah bersumber dari pikiran kita sendiri. Saya mulai berusaha untuk menghindarkan pikiran-pikiran negatif dan selalu untuk berpikir positif, menghadapi dan menerima berbagai masalah dengan hati terbuka dan selalu bersyukur dalam setiap kegagalan yang masih seringkali saya alami selanjutnya.(PutuB)

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka”. Inilah potongan sebuah untaian kalimat panjang yang senantiasa terlintas tatkala saya mengalami kegagalan-kegagalan selajutnya.

Melanjutkan hidup dengan optimis dan penuh semangat , itulah yang mesti saya lakukan setelah sekian lama terbelenggu, menjadi korban akan pikiran-pikiran negatif tentang kegagalan dan problema hidup yang telah saya alami sebelumnya. Selalu bersyukur dan melakukan apapun hanya untuk persembahan kepada-Nya adalah sebuah prinsip yang berusaha saya pegang teguh walaupun hal itu dapat menyakiti hati dan perasaan saya sekalipun. Dengan berpikir demikian maka segala sesuatu itupun terasa ringan dan tanpa beban untuk dilakukan.

Di Tahun 1995 setelah kondisi kesehatan dan pikiran saya membaik, saya disarankan untuk melanjutkan studi ditempat yang baru di Kota Denpasar dan inipun tidak bertahan lama. Selama satu tahun saya mencoba dan saya berusaha menjadi orang yang sedikit berguna untuk keluarga namun hal itu tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Saya gagal, saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan melanjutkan kembali ditempat baru di Surabaya yang saya anggap lebih sesuai dengan minat dan bakat yang saya miliki. Saya bersyukur bahwa apa yang saya kehendaki disambut baik oleh kedua orang tua dan para kerabat dekat.

Pertama kali melanjutkan studi Tahun 1996 di kota Surabaya, tekad dan semangat saya begitu kuat untuk bangkit dan berjuang demi masa depan saya dikemudian hari. Dengan berjalan kaki sepanjang 3 kilometer pun sering saya lakukan demi menuntut ilmu di kota itu. Problema hidup yang senantiasa mengusik dan membuat kecewa, saya hadapi dengan ikhlas dan hati terbuka yang membuat semuanya seolah tanpa beban walaupun sebenarnya kekecewaan itu masih ada namun tersimpan rapi jauh dilubuk hati ini.

Hari-hari berlalu begitu ringan tanpa beban berarti yang saya rasakan, sampai setahun kemudian, disaat pertama kali saya merasakan sakit yang teramat sangat di kepala ini. Tidur pun sangat sulit saya lakukan. Setelah beberapa kali kontrol ternyata gegar otak ringan yang pernah saya alami kambuh lagi. Gegar otak sewaktu terjatuh dari lantai 2 rumah kost beberapa tahun yang lalu di kota Malang. Akibat sakit ini, studi pun gagal lagi. Hal ini tidak membuat saya prihatin dan kurang percaya diri. Saya tetap bersyukur mengingat kegagalan itu masih berubungan dengan resiko yang harus saya hadapi akibat kesalahan langkah yang saya lakukan dalam menghadapi kegagalan-kegagalan beberapa tahun sebelumnya. Saya berpikir bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dihadapi oleh setiap mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pasti telah mempersiapkan jalan terbaik untuk saya dan saya sudah seharusnya berusaha menemukan dimana jalan itu berada.

Peristiwa itu membuat saya berhenti dari semua aktivitas studi untuk selamanya dan akhirnya saya pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong tanpa ijazah kecuali gelar pengacara (pengangguran banyak acara). Hari-hari saya isi dengan silaturahmi, bertemu dengan teman-teman lama, para sahabat dan kerabat yang masih mau menerima saya apa adanya. Silaturahmi dengan orang-orang sekitar adalah awal jalan terbaik yang dipersiapkan Tuhan kepada saya. Hal ini bukan sekedar kata-kata kosong tiada arti yang coba saya sampaikan kepada anda. Dengan silaturahmi ini sebuah jalan terbentang di hadapan saya. Salah seorang paman menawarkan sebuah pekerjaan kepada saya sebagai seorang tenaga honorer di sebuah instansi pemerintah yang terletak jauh di pelosok desa di wilayah Sulawesi Selatan. Hal ini memaksa saya harus berpikir apakah jalan tsb pilihan terbaik yang harus saya lalui ataukah saya mesti menyusun kata-kata memberikan alasan terbaik guna menolak dan mencari jalan lain yang belum nampak arah dan tujuannya. Menjadi seorang tenaga honorer di tempat terpencil sangat jauh dari pemikiran saya waktu itu. Apalagi mendengar kata “honorer” saja yang terlintas hanyalah pekerjaan berat penuh tantangan, tanpa bayaran dan mesti rela dicaci maki oleh atasan.

Mengingat kegagalan masa lalu yang umumnya akibat keraguan dan terlalu banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu, maka dengan berat hati saya memutuskan dan menentukan pilihan bahwa jalan itu harus saya tempuh dan saya berusaha berpikir positif bahwa jalan itu adalah jalan terbaik walaupun hati ini belum dapat menerima sepenuhnya. Pertengahan Tahun 1998, seiring doa dan harapan kedua orang tua saya waktu itu, saya memutuskan untuk mengambil langkah pertama saya yaitu merantau ke kota Makassar dan tinggal sementara di rumah seorang paman. Wejangan-wejangan tentang hidup yang seringkali disampaikan paman kepada saya menambah kuat semangat dan tekad saya untuk berusaha menjadi orang yang lebih berarti dalam kehidupan saya kelak. Dengan berbagai nasehat dan saran yang sering saya terima itu akhirnya saya dapat menerima bahwa jalan itu memang jalan terbaik yang harus saya tempuh.

Hari-hari dalam melakukan segala aktivitas sebagai tenaga honorer disebuah instansi pemerintah ditempat yang baru, saya lalui dengan penuh syukur walaupun gaji honor waktu itu tidak seberapa. Sedikit demi sedikit saya mulai tersadar bahwa kegagalan studi yang beberapa kali saya alami bukanlah suatu hal yang berdampak negatif dalam kehidupan saya. Justru didalam studi saya yang gagal waktu itu terselip sebuah benih positif yang membawa keberhasilan yang diikuti oleh benih-benih keberhasilan yang lain. Walaupun gagal dalam studi namun saya berhasil memiliki sedikit keahlian yang sangat bermanfaat di lingkungan kerja saya sampai saat ini. Hal ini merubah hidup dan menghadirkan peluang-peluang berharga untuk saya jalani di hari-hari selanjutnya dengan penuh rasa syukur.

Merenungi segala sesuatu yang pernah saya alami, akhirnya saya yakin bahwa dalam setiap keagalan, Tuhan telah menyelipkan begitu banyak benih keberhasilan, tergantung bagaimana seseorang berpikir dan mengambil tindakan akan kegagalan yang mereka alami. Kehidupan pribadi saya adalah bukti nyata potongan untaian kalimat panjang yang menyebutkan “Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka”. (PutuB)

Sumber: http://globalmindsolution.wordpress.com

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

10 Fakta Telur Belajar Menghargai Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


RSS Jobs Vacancy

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Member Of:


banner_tukangdezain

%d bloggers like this: