Awasss!! bahaya cacingan

May 24, 2009 at 10:41 am 16 comments

Siapa mengira, 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss adalah beberapa akibatnya.

Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akibat diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban kebanyakan adalah anak-anak.

“Khususnya anak usia dua tahun ke atas yang mulai bermain di lantai/ tanah. Nah, tanahnya itu sudah tercemar (soiled), terutama oleh kotoran manusia,” kata dr Adi Tagor SpA DPH dari RS Pondok Indah Jakarta.

Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan sub-tropis, dan biasanya meningkat ketika musim hujan. Pada saat tersebut, sungai dan kakus meluap, dan larva cacing menyebar ke berbagai sudut yang sangat mungkin bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 minggu untuk berkembang. Cacing yang biasa “menyerbu” tubuh manusia adalah cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi.

“Di daerah dimana sanitasi lingkungan masih buruk, seperti Indonesia, hampir 90 persen anak-anaknya pasti terkena cacingan,” lanjut Adi.

Di Indonesia seharusnya tidak lagi menggunakan septictank untuk keperluan buang air besar. “Khususnya di Jakarta, karena daerahnya sangat padat, seharusnya tinja langsung dibuang ke tempat penampungan, seperti di Singapura.”

Ketika seorang anak yang cacingan buang air besar di lantai, maka telur atau sporanya bisa tahan berhari-hari, meskipun sudah dipel. “Sebelum dapat rumah, larva tidak akan keluar (menetas). Begitu masuk ke usus, baru ia akan keluar.”

Selain melalui makanan yang tercemar oleh larva cacing, cacing juga masuk ke tubuh manusia melalui kulit (pori-pori). Dari tanah, misalnya lewat kaki anak telanjang yang menginjak larva atau telur. Bisa juga larva cacing masuk melalui pori-pori, yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal.

“Setelah menembus kulit, ia masuk ke pembuluh darah vena (balik), lalu menuju paru-paru. Nah, di paru-paru inilah muncul Sindroma Loffler. Anak jadi batuk seperti TBC, berdahak seperti asma. Ini termasuk ke dalam siklus perjalanan cacing.”

Setelah itu, cacing menggigit dinding usus bertelur dengan cepat di usus. “Di usus inilah makanan dipecah menjadi nutrient (zat gizi elementer yang sudah bisa diserap oleh usus). Ini yang “dibajak” oleh cacing. Jadi, cacing itu memang berdomisili di usus, karena ia tidak bisa mencernakan sendiri makanan. Ia harus makan yang sudah setengah cerna.”
Selain siklus normal, cacing juga bisa menyebar ke tempat-tempat lain, seperti hati atau bagian tubuh lain.

Nutrisi Dibajak

Dampak cacingan ternyata tidak sepele. Dari pertumbuhan fisik yang terhambat, hingga IQ loss. Dampak yang paling banyak adalah anemia atau kadar haemoglobin (Hb) rendah. Adi melanjutkan, Hb sangat vital bagi manusia.

“Fungsinya seperti alat angkut, seperti truk, yang membawa oksigen dan makanan dari usus ke seluruh organ tubuh,” jelas Adi yang mengibaratkan fungsi kerja Hb yang seperti Bulog yang mengantar beras. “Kalau truk-nya sedikit, ya kiriman berasnya akan telat. Begitu pun pada orang yang anemia. Suplai oksigen dan nutrient ke otak sedikit, ke ginjal sedikit.”

Padahal, seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan banyak nutrient. “Nutrisi itu dibagi dua, yaitu makro nutrient (karbohidrat, lemak, protein, air) dan mikro nutrient (vitamin dan mineral). Nah, ini yang dibajak. Jadi, yang gemuk cacingnya, bukan anaknya,” tandas Adi. “Di dalam tubuh, cacing-cacing ini akan beranak lagi, lagi, dan lagi. Kadang-kadang, kalau menggumpal, bentuknya seperti bola. Bisa juga terjadi “erratic”, cacing keluar keluar lewat hidung atau mulut.”

Anemia membuat anak gampang sakit karena tidak punya daya tahan. “Gimana mau sehat kalau zat-zat untuk membuat daya tahan, terutama protein, sudah dibajak di usus oleh cacing,” lanjutnya. Anak juga akan kehilangan berat badan, dan prestasi belajar turun.

Berakibat fatal

Cacingan juga bisa berakibat fatal. “Bisa ke empedu, meski jarang, atau bikin usus bolong. Fatalnya memang tidak secara langsung, tapi karena fisiknya lemah, daya tahan turun, maka penyakit lain pun masuk. Nah, penyakit lain inilah yang bikin fatal.”

Gejala cacingan biasanya ditandai dengan sakit perut, diare berulang, dan kembung. “Seringkali juga ada kolik yang tidak jelas dan berulang,” jelas Adi. Kalau sudah parah, “Muka anak akan tampak pucat dan badan kurus. Ini berarti sudah terjadi pemiskinan secara fisik,” lanjut dokter spesialis anak yang juga pemegang diploma kesehatan publik dari Singapura ini.

Kapan orangtua membawa anak ke dokter? Di daerah tropis dan sub-tropis, apalagi di daerah yang sanitasinya buruk, hampir semua anak pasti cacingan. Di daerah miskin, angka cacingan pada anak bahkan dipastikan bisa 100 persen.

“Jadi, nggak perlu diperiksa, pasti cacingan. Oleh karena itu, setiap enam bulan sekali pada masa usia tumbuh, yaitu usia 0 sampai sekitar usia 15 tahun, anak diberi obat cacing.” Jangka waktu enam bulan ini untuk memotong siklus kehidupan cacing.

Dewasa Juga Cacingan

Menurut Adi Tagor, orang dewasa pun bisa cacingan. “Obat cacingnya untuk orang dewasa juga ada, tapi diberikan setahun sekali.” Yang membedakan cacingan pada anak dan pada dewasa adalah, anak-anak masih tumbuh dan berkembang, sementara orang dewasa sudah tidak lagi tumbuh dan berkembang. “Orang dewasa juga masih bisa survive, bisa melawan sendiri cacing yang ada.”

Yang harus dicermati adalah, kira-kira 60-80 persen penyakit yang terjadi pada usia dewasa dimulai di usia pertumbuhan. Misalnya, anemia kronis akibat cacingan. Ini akan membuat jumlah sel otak berkurang karena kekurangan nutrisi selama masa tumbuh kembang.

Akibatnya, ketika dewasa, kualitas fisik dan IQ orang tersebut tentu akan berkurang juga. Contoh lain, ketika kecil terkena penyakit infeksi yang tidak ketahuan. “Setelah dewasa sakit ginjal, dan sebagainya.”

Tips Menghindari Cacingan

* Biasakan anak untuk membersihkan tangan dengan sabun, sebelum makan, seusai makan, atau setelah bermain, khususnya di luar rumah.
* Potong kuku anak secara teratur. Kuku panjang bisa menjadi tempat bermukim larva cacing.
* Ajari anak untuk tidak terbiasa memasukkan tangan ke dalam mulutnya. Selalu pakaikan sandal atau sepatu setiap kali anak bermain di luar rumah.
* Jaga kebersihan sanitasi lingkungan, misalnya dengan rajin membersihkan kakus atau septictank.

Info Sehat

Entry filed under: Gado-gado. Tags: .

Belajar Jujur 4 Langkah Awal Berwirausaha

16 Comments Add your own

  • 1. NORI  |  June 8, 2009 at 4:16 am

    GIMANA CIRI-CIRI ANAK MENGIDAP PENGYAKIT CACINGAN?

    Reply
  • 2. search-money  |  June 15, 2009 at 2:08 pm

    wahh klo anak sekarang dah jarang dech anak kecil yang cacingan.coz ga kayak dulu,anank2 dlu mainnya di tempat yang kotor,klo anak sekarang pada main PS..

    Reply
  • 4. Thieva  |  June 21, 2009 at 11:07 pm

    ma kasih infonya

    Reply
  • 5. seri  |  June 24, 2009 at 10:02 am

    apakah jika anak sebentar-bentar bukan saat berbicara tapi pada saat diam mengedip-edipkan mata juga salah satu ciri-ciri anak cacingan ?

    Reply
  • 6. annisa  |  October 8, 2010 at 3:34 am

    keren banget , thanks ya info nya🙂

    Reply
  • 7. andini  |  January 21, 2011 at 10:08 am

    thank info nya mmang kalo sht itu mhal mknya kta bth bgt info ksehatan biar rakyat indonesia sht n pinter tp ga keblingerrrrr oke,

    Reply
  • 8. febrio_handsome  |  February 9, 2011 at 1:11 pm

    Reply
  • 9. LUVIDA  |  March 1, 2011 at 3:45 pm

    kalau cara mengatasi cacingan bagi usia dewasa bagaimana???atau yang sudah mengalami pemiskinan fisik???thanks be4.

    Reply
  • 10. united boy  |  March 19, 2011 at 7:43 am

    mao nanya dunk, usia ane skrng 21 thn, tnggi bdn sqtr 170cm, n brt bdn cm 47kg. Nh qra2 ane cacingan g y?? Susah bngt gemuk euy

    Reply
  • 11. rokki on city  |  July 17, 2011 at 4:56 pm

    mungkin ane cacingan gan.. ada rasa bergejolak di pant4t ane, mirip2 mahluk hidup hendak keluar. apa iye ye.. padehel ane tinggal di kota dan mainnya go blogs terus …

    Reply
    • 12. cahturqlho  |  July 19, 2011 at 9:18 am

      hahaha..iya mungkin gan, mending langsung kasih obat aja tu cacing gan..

      Reply
  • 13. Rodhiya Noor Fajri  |  October 25, 2011 at 11:55 am

    Aku cacingan ndak ya? Mau gemuk, tp ndak bisa-bisa… Umur 18 Tahun….

    Reply
  • 14. Beni  |  November 18, 2011 at 11:38 am

    Gw 21 thn brat 48.ccngn g y.n prut dkit buncit.sush gmukny .ccing p ya. . .

    Reply
    • 15. cahturqlho  |  December 8, 2011 at 1:52 pm

      tinggi badan brapa y? pola makan n istirahat berpengaruh bro..

      Reply
  • 16. jaka  |  June 9, 2012 at 12:38 am

    ana

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


RSS Jobs Vacancy

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Member Of:


banner_tukangdezain

%d bloggers like this: